Season 2 #Twitteriak Eps. 24 bersama @Iwan9S10A (Iwan Setyawan)

Dalam penulisan fiksi keluarga, sosok ibu seringkali tenggelam di balik bayang-bayang ayah. Narasi-narasi mengenai ibu seringkali juga menempatkan ibu sebagai pelengkap, bukan sebagai sosok utama di dalam keluarga. Kalaupun ada, jumlah narasi fiksi keluarga yang demikian itu terbilang terbatas.

Di episode ke-24 obrolan #Twitteriak ini sengaja dihadirkan Iwan Setyawan (@Iwan9S10A), seorang penulis yang baru saja merilis novel terbarunya “Ibuk,”. Iwan dihadirkan dalam topik obrolan “Untukmu Ibu” karena rupanya bagi Iwan, ibu adalah sumber inspirasi menulis. Kehadirannya di obrolan #Twitteriak juga atas wishlist dari Nabila Budayana (@nabilabudayana).

Sebagai penulis, pria kelahiran Batu, 2 Desember 1974 ini mencuat namanya sejak novel “9 Summers 10 Autumns” (9S10A) digemari oleh para pembaca. Novel biografis tersebut bercerita mengenai kehidupan Iwan sejak dari kota apel Malang hingga akhirnya pindah ke Big Apple New York. Sukses novel itu, kemudian dilanjutkan Iwan dengan menulis novel “Ibuk,” ini. Karakter ibu dalam novel “Ibuk,” sebenarnya sudah hadir di novel 9S10A sebagai figur yang mengajarkan demokrasi berbagi. Siapakah sebenarnya “Ibuk”? Tak lain adalah representasi Ibu Ngatinah, ibu kandung Iwan sendiri.

Mari kita simak obrolan #Twitteriak bersama Iwan Setyawan berikut ini:

#Twitteriak: Banyak orang menilai Iwan menulis cerita kisah sukses. Bagi seorang Iwan Setyawan sendiri, apa ukuran/arti sukses?
Iwan Setyawan: Sukses buat saya adalah keberhasilan untuk berbagi dan menyentuh hati sesama. Sukses adalah menembus setiap tantangan hidup.

#Twitteriak: Di novel 9S10A tertulis “Di kaki G. Panderman, di rumah berukuran 6 x 7 m, seorang anak laki2 bermimpi.” Apa sebenarnya mimpi itu?
Iwan Setyawan: Mimpi masa kecil saya adalah mempunyai kamar sendiri, dan itu yang saya kejar sampai NYC. Saya kejar dengan sepenuh hati!

#Twitteriak: Novel 9S10A juga bicara tentang mencari pijakan kuat yang diibaratkan seperti sepatu. Apakah pijakan yang kuat itu sebetulnya?
Iwan Setyawan: Pijakan saya adalah keluarga. Saya bertahan hidup, berjuang untuk mereka. Mereka juga yg menyelamatkan hidup saya. KELUARGA.

#Twitteriak: Kalau novel 9S10A ditujukan sebagai hadiah untuk keponakan, novel “Ibuk,” ditujukan ke siapa? Dan apa alasannya?
Iwan Setyawan: Sama. “Ibuk,” saya tujukan untuk keponakan saya. Agar mereka tidak terputus dengan sejarah keluarga. Agar lebih mencintai keluarga. Saya menuliskan “Ibuk,” untuk “menghidupkan” Bapak saya, lewat cinta Ibuk.

#Twitteriak: Biasanya kita sulit menceritakan tentang keluarga sendiri, apakah Iwan mengalami hal yang sama juga saat menulis novel “Ibuk,” ini?
Iwan Setyawan: Butuh keberanian besar untuk menuliskan cerita keluarga dan masa lalu. Berat sekali. But it’s all worth it. So worth it…

#Twitteriak: Bagaimana cara Iwan menulis novel “Ibuk,”? Apakah berlandaskan plot atau karakter di dalamnya?
Iwan Setyawan: Ah, mengalir begitu saja. Saya mengikuti plot yang saya bangun sebelumnya dan memasukkan karakter-karakter yang begitu dekat hati saya.

#Twitteriak: Apa perbedaan mendasar antara novel 9S10A dan “Ibuk,”? (Pertanyaan dari @nabilabudayana)
Iwan Setyawan: Novel 9S10A adalah “aku”. Sedangkan “Ibuk,” diceritakan oleh seorang narator yang dikenal dari novel 9S10A. Saya kesulitan menuliskan percakapan dalam Bahasa Indonesia di 9S10A, namun saya mulai lancar menulis di “Ibuk,”

#Twitteriak: Mengapa menggunakan kata ganti “Bayek” dalam “Ibuk,”? (Pertanyaan dari @nabilabudayana)
Iwan Setyawan: Saya mencoba mengambil jarak dengan saya sendiri, dengan menciptakan karakter “Bayek”. “Bayek” itu panggilan kecil saya :)

#Twitteriak: Kenapa semakin ke belakang novel “Ibuk,” nyaris sama seperti 9S10A? (Pertanyaan dari @f3r1n4)
Iwan Setyawan: Pendekatan “Ibuk,” dan 9S10A berbeda. Mereka saling melengkapi lubang-lubang cerita.

#Twitteriak: Setelah menulis ‘buku keluarga’, tema apa lagi yang selanjutnya ingin ditulis Iwan? (Pertanyaan dari @f3r1n4)
Iwan Setyawan: Ingin menulis tentang keluarga lagi. Mungkin bukan keluarga saya lagi. Tapi tidak menutup kemungkinan tema yang lain.

#Twitteriak: Apa pesan/nasehat dari ibu yg sampai saat ini begitu membekas? (Pertanyaan dari @myfloya)
Iwan Setyawan: “Jangan takut! Coba dulu!” Itu nasehat Ibuk yang terus saya bawa. Hidup dengan berani! Life is too short to be afraid of.

#Twitteriak: Gaya bahasa “Ibuk,” terasa lebih sederhana daripada 9S10A. Mengapa demikian? (Pertanyaan dari @nabilabudayana)
Iwan Setyawan: Karena ingin mewakili kesederhanaan Ibuk lewat kalimat-kalimat yang sederhana. Cerita hidup Ibuk sendiri, sudah “kuat”.

#Twitteriak: Tiga kata tentang Ibuk? (Pertanyaan dari @dhilayaumil)
Iwan Setyawan: Tiga kata tentang Ibuk: sederhana, tulus, perkasa.

#Twitteriak: Apakah Iwan berencana mengkhususkan diri menulis fiksi berdasar kisah nyata? (Pertanyaan dari @nabilabudayana)
Iwan Setyawan: Banyak cerita nyata yang “menggetarkan” yang ingin saya tulis. Tapi, saya terbuka untuk fiksi dari imajinasi saya.

#Twitteriak: Mengapa judulnya “Ibuk,”? (Pertanyaan dari @dhilayaumil)
Iwan Setyawan: Ibuk, begitu saya memanggil ibu. Di masa kecil saya sering teriak “Bukkkkk”. Cucu-cucu memanggilnya “Mbahbuk” :)

#Twitteriak: Apa pengalaman mengesankan selama menulis novel “Ibuk,”? (Pertanyaan dari @tezarnet)
Iwan Setyawan: Ah, saya sempat berhenti menulis “Ibuk,” selama 2 bulan, setelah Bapak saya meninggal dunia. It was too overwhelming :(

#Twitteriak: Apa harapan Iwan terhadap pembaca setelah membaca “Ibuk,”? (Pertanyaan dari @nabilabudayana)
Iwan Setyawan: Lewat novel “Ibuk,” saya ingin menyampaikan (kepada diri saya) bahwa mencintai ibu dan keluarga tidak bisa menunggu.

#Twitteriak: Setelah novel “Ibuk,” apakah berniat menulis tentang Bapak? (Pertanyaan dari @winiwin)
Iwan Setyawan: Saya ingin sekali menuliskan Bapak. Hidupnya terjal, tapi dia berani melangkah dan akhirnya menemukan terang.

#Twitteriak: Bagian/kisah apa dari Ibuk yang paling sulit diceritakan? (Pertanyaan dari @bzee_why)
Iwan Setyawan: Ketika Ibuk ditinggal oleh sang playboy pasar, suami selama 40 tahun. Selalu, bikin menangis sampai sekarang.

#Twitteriak: Cover “Ibuk,” cukup unik, bisa diceritakan sedikit proses kreatifnya? (Pertanyaan dari @tezarnet)
Iwan Setyawan: Ibuk sosok yang lembut tapi tegar. Beliau suka memakai daster batik. Cover mencoba menangkap itu. Coretan hidup.

#Twitteriak: Apa mimpi Iwan yang belum tercapai? Dan sudah sejauh mana usaha untuk meraihnya? (Pertanyaan dari @asdewi)
Iwan Setyawan: Ingin terus berkarya. Menjadi guru yoga. Ah, berkeluarga juga. Banyak mimpi baru yang lahir setelah pulang ke Indonesia.

#Twitteriak: Hal apa yang diambil dari proses penulisan 9S10A, yang kemudian diterapkan pada “Ibuk,”? (Pertanyaan dari @nabilabudayana)
Iwan Setyawan: Menulis hidup sendiri dan masa lalu butuh keberanian. Butuh energi luar biasa. Tapi, melegakan. Menyembuhkan.

#Twitteriak: Kenapa harus tentang keluarga lagi? Apa tidak ingin menulis tentang ‘keras’nya tinggal di AS? (Pertanyaan dari @f3r1n4)
Iwan Setyawan: Ingin menuliskan kehidupan di NYC secara lebih detail. Tapi, saya tahan nafas dulu. Mungkin, di novel selanjutnya.

#Twitteriak: Adakah sesuatu yang ingin sekali Iwan persembahkan buat ibu tercinta? (Pertanyaan dari @myfloya)
Iwan Setyawan: Selain daster batik, saya ingin melihat Ibuk saya naik haji. Saya ingin lebih banyak menemani beliau di kota Batu.

#Twitteriak: Apa perbedaan menjadi seorang data analis dan sekarang sebagai penulis yang karyanya disukai banyak orang? (Pertanyaan dari @ndahpendiem)
Iwan Setyawan: Menjadi penulis dan data analis memberikan “joy” dan “beauty” yang berbeda, dan saya menikmatinya…

Demikian obrolan bersama Iwan Setyawan di episode 24 akhir Season 2 #Twitteriak. Semoga perbincangan ini memberi banyak manfaat bagi semua. Terima kasih kepada Nabila Budayana yang sudah mengusulkan kehadiran penulis ini dan semua Tweereaks yang terlibat dalam obrolan ini.

One thought on “Season 2 #Twitteriak Eps. 24 bersama @Iwan9S10A (Iwan Setyawan)

  1. Pingback: Selesainya Season 2 dan tema besar Season 3 #Twitteriak « Twitteriak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s